Mini Riset: Integrasi Nilai Karakter dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam di MTs Darul Mujahadah Tegal
MINI RISET
INTEGRASI NILAI KARAKTER DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MTS DARUL
MUJAHADAH TEGAL
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Analisis Kurikulum dan Silabus PAI
DOSEN PENGAMPU: DR. SITI MARYAM MUNJIAT, S. S., M. Pd.
DISUSUN OLEH:
WIJI ASTUTI 2381130781
AFIYAH NUR AZIZAH 2381130817
SYAMSUL HADI KURNIAWAN 2381130804
NANI MARDIANI 2381130810
PROGRAM STUDI PJJ PAI UNIVERSITAS ISLAM NEGRI
SIBER SYEKH NURJATI
CIREBON
2026
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum Pendidikan Agama
Islam (PAI) di MTs Darul Mujahadah Tegal. Penelitian menggunakan pendekatan
kualitatif dengan metode deskriptif melalui teknik observasi, wawancara, dan
studi dokumentasi terhadap guru PAI dan peserta didik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa integrasi nilai karakter seperti religius, jujur, disiplin,
dan tanggung jawab telah diterapkan dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran, meskipun belum sepenuhnya optimal. Terdapat beberapa kendala
dalam implementasinya, antara lain keterbatasan waktu, perbedaan latar belakang
siswa, serta kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga. Meskipun demikian,
integrasi nilai karakter dalam pembelajaran PAI memberikan dampak positif
terhadap perubahan perilaku peserta didik, seperti meningkatnya sikap disiplin,
tanggung jawab, dan sopan santun, walaupun belum merata secara keseluruhan.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua
untuk meningkatkan efektivitas pendidikan karakter.
Kata kunci:
Pendidikan Agama Islam, nilai karakter, integrasi, kurikulum, peserta didik
KATA PENGANTAR
Mini riset ini disusun sebagai salah satu bentuk pemenuhan tugas mata
kuliah Analisis Kurikulum dan Silabus PAI Satuan Pendidikan yang diampu oleh
Ibu Dr. Siti Maryam Munjiat, S.S., M.Pd. Selain itu, penyusunan mini riset ini
juga bertujuan untuk menambah wawasan serta pemahaman penulis terkait integrasi
nilai karakter dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan mini riset ini masih terdapat
berbagai kekurangan, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa yang akan datang.
Akhir kata, penulis berharap semoga mini riset ini dapat memberikan
manfaat dan menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang
pendidikan agama Islam, bagi penulis maupun pembaca.
Hormat
kami,
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan
sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga suatu
proses pembentukan kepribadian dan karakter peserta didik. Di tengah era globalisasi yang membawa dampak pergeseran
nilai moral, PAI memegang peranan
sentral sebagai benteng etika. Kurikulum PAI diharapkan tidak hanya menyentuh
aspek kognitif, tetapi mampu menginternalisasikan nilai-nilai spiritual dan
social yang termanifestasi dalam perilaku sehari-hari.
Namun,
realitas di lapangan
menunjukkan adanya kesenjangan antara penguasaan materi agama dengan perilaku moral siswa.
Maraknya fenomena krisis degradasi moral seperti perundungan, ketidakjujuran,
dan kurangnya rasa hormat
menjadi sinyal bahwa integrasi nilai
karakter dalam kurikulum belum
berjalan optimal. PAI sering kali masih terjebak pada pendekatan
tekstual-formalistik yang kurang menyentuh substansi pembentukan akhlak mulia
dalam konteks kehidupan modern.
Integrasi nilai karakter dalam kurikulum
PAI memerlukan strategi yang komprehensif, mulai perencanaan, pelaksanaan,
hingga evaluasi. Hal ini melibatkan pengembangan bahan ajar yang kontekstual,
metode pembelajaran yang aktif, serta penciptaan lingkungan sekolah yang religius.
Karakter seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi harus
melekat secara implisit maupun eksplisit dalam setiap kompetensi dasar yang
diajarkan kepada siswa.
Oleh karena itu, penelitian mengenai bagaimana nilai-nilai karakter ini diintegrasikan ke dalam struktur kurikulum PAI menjadi sangat krusial. Melalui pemahaman yang mendalam tentang pola integrasi ini, diharapkan Lembaga Pendidikan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh. Hal ini sejalan dengan tujuan Pendidikan nasional dalam membentuk insan kamil yang beriman dan bertakwa.
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana strategi integrasi
nilai-nilai karakter dalam perencanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam?
1.2.2 Apa saja kendala yang dihadapi guru
dalam mengimplementasikan nilai karakter saat proses pembelajaran PAI di kelas?
1.2.3 Bagaimana efektivitas integrasi nilai karakter tersebut
terhadap perubahan
perilaku dan sikap mental peserta didik?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1 Untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi pengintegrasian nilai karakter ke dalam perangkat
kurikulum PAI.
1.3.2 Untuk mengidentifikasi faktor penghambat dalam pelaksanaan internalisasi nilai karakter malalui mata Pelajaran
PAI
1.3.3 Untuk mengevaluasi dampak integrasi nilai karakter
terhadap perkembangan moral dan etika
siswa.
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1 Penelitian ini diharapkan dapat
menambah khazanah keilmuan dalam bidang Pendidikan Agama Islam, khususnya terkait integrasi nilai-nilai karakter
dalam kurikulum. Selain itu, dapat menjadi referensi bagi penelitian
selanjutnya yang relevan.
1.4.2 Bagi guru PAI dapat sebagai pedoman
dalam mengimplementasikan nilai-nilai karakter secara efektif dalam proses
pembelajaran.
1.4.3 Bagi peserta didik dapat membantu
membentuk sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai akhlak mulia dalam
kehidupan sehari- hari.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Hakikat Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran islam melalui kegiatan bimbingan
dan pengajaran. Secara epistemology, PAI tidak hanya terbatas pada transfer
ilmu pengetahuan keagamaan semata, tetapi mencakup pembentukkan sikap mental
yang berlandaskan nilai-nilai katahuidan. PAI berfungsi sebagai Kompas moral
yang mengarahkan individu agar mampu enyelaraskan antara kebutuhan material dan
kebutuhan spiritual secara seimbang
(Majid, 2024:34).
Dalam strutur kurikulum nasional, PAI
memiliki kedudukan strategis sebagai instrument utama dalam pembentukan
karakter bangsa. Mata Pelajaran ini dirancang untuk mengembangkan potensi
fitrah manusia agar menjadi insan kamil yang memiliki ketundukan kepada Sang Pencipta serta memiliki
kamaslahatan bagi sesama manusia. PAI di sekolah
umum diarahkan untuk menumbuhkan sikap inklusif, moderat, dan toleran di tengah keberagaman social,
sehingga agama menjadi sumber
kedamaian dan Solusi atas berbagai problematika kehidupan (Ghufron 2023:112).
Secara Oprasional, keberhasilan PAI
diukur melalui integrasi antara aspek kognitif (pemahaman hukum), afektif
(penghayatan nilai), dan psikomotorik (praktik ibadah dan akhlak). Guru PAI
dituntut tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi murabbi (pendidik)
dan muaddib (pembentuk adab). Dengan demikian, PAI diharapkan mampu melahirkan
lulusan yang memilki integritas tinggi,
di mana perilaku sehari-harinya
2.2
Konsep Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam
Pendidikan karakter dalam islam secara
substansial merupakan bagian integral dari Pendidikan akhlak. Akhlak dalam
pandangan islam adalah “hailah” atau kondisi batin yang sudah menetap dalam
jiwa manusia, sehingga melahirkan perbuatan dengan mudah tanpa perlu pemikiran
mendalam. Pendidikan karakter islam bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai etik
yang bersumber dari wahyu Ilahi, sehingga karakter yang terbentuk tidak
bersifat relative atau situasional, melainkan memiliki standar kebenaran yang
mutlak dan abadi (Zubaedi, 2022: 89).
Proses pembentukan karakter dalam
perspektif islam melibatkan tiga
tahapan utama, yakni moral knowing (pengetahuan tentang kebaikan), moral loving
(mencintai kebaikan), dan moral doing (mempratikkan kebaikan). Islam menekankan
pentingnya tazkiyatun nufus atau penyucian jiwa sebagai landasan utama sebelum
nilai-nilai karakter ditanamkan. Tanpa jiwa yang bersih, penanaman karakter
hanya akan menjadi formalitas perilaku lahiriah yang kering dari nilai ketulusan dan keikhlasan kepada Allah SWT (Yakub, 2021:142).
Nilai-nilai karakter yang diintegrasikan
dalam islam islam mencakup empat
pilar utama kenabian, yaitu shiddiq (jujur), Amanah (terpercaya), tabligh
(komunikatif), dan fathanah (cerdas secara intelektual dan emosional). Keempat
sifat ini menjadi standar kompetensi lulusan dalam system Pendidikan islam yang
ideal. Melalui internalisasi sifat-sifa ini, peserta didik diharapkan mampu menghadapi tantangan
zaman dengan.
2.3
Kurikulum dan Strategi Integrasi Nilai Karakter
Kurikulum merupakan rancangan Pendidikan
yang berisi sekumpulan rencana, tujuan, dan materi pembelajaran sebagai pedoman
dalam mencapai tujuan Pendidikan tertentu. Dalam konteks integrasi, kurikulum
bukan hanya sekedar dokumen tertulis, melainkan juga mencakup
kurikulumtersembunyi (hidden curriculum) yang tercipta melalui interaksi
social dan budaya sekolah. Integrasi nilai karakter mengharuskan adanya
rekayasa kurikulum yang mempu menyisipkan pesan moral ke dalam setiap pokok
bahasan tanpa menghilangkan esensi keilmuannya
(Hamalik: 2027, 78).
Keberhasilan integrasi ini sangat
bergantung pada ekosistem sekolah
yang mendukung, terutama dalam aspek keteladanan pimpinan dan guru. Integrasi tidak akan efektif
jika hanya bersifat intruksional- teoritis; ia memerlukan linhkungan yang
mempraktikkan nilai-nilai tersebut
secara konsisten. Evaluasi dalam kurikulum terintegrasi ini juga harus bersifat
otentik, di mana guru menilai
perubahan perilaku siswa
(Samani dan Hariyanto, 2024:201).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif digunakan
karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai
integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
di MTs Darul Mujahadah Tegal. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat
menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan secara nyata dan menyeluruh.
Penelitian deskriptif kualitatif berfokus pada pengumpulan data berupa kata-kata, tindakan, serta dokumen yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan penerapan nilai karakter di sekolah. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi yang sebenarnya.
3.2
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Darul
Mujahadah Tegal yang berlokasi di Kabupaten Tegal. Pemilihan lokasi penelitian
didasarkan pada pertimbangan bahwa madrasah tersebut telah menerapkan
pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang terintegrasi dengan nilai-nilai
karakter, sehingga relevan untuk dijadikan objek kajian dalam penelitian ini.
Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2026. Kegiatan penelitian meliputi observasi proses pembelajaran, wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam, serta pengumpulan data melalui dokumentasi perangkat pembelajaran seperti silabus dan RPP.
3.3
Subjek/Populasi
dan Sampel
Subjek penelitian ini meliputi kepala
sekolah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), dan peserta didik. Kepala sekolah
menjadi sumber data terkait kebijakan dan arah pengembangan kurikulum, guru PAI
menjadi sumber utama mengenai perencanaan dan pelaksanaan integrasi nilai
karakter dalam pembelajaran, sedangkan peserta didik menjadi informan untuk
melihat respons dan perubahan perilaku dalam proses pembelajaran.
3.4
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran PAI serta penerapan nilai karakter di lingkungan sekolah. Wawancara mendalam dilakukan kepada kepala sekolah, guru PAI, dan peserta didik untuk memperoleh informasi yang lebih rinci mengenai strategi, hambatan, dan dampak integrasi nilai karakter. Studi dokumentasi digunakan untuk menelaah dokumen pendukung seperti silabus, RPP, modul ajar, program pembiasaan, dan catatan kegiatan sekolah yang berkaitan dengan pendidikan karakter.
3.5
Teknik Analisis
Data
Analisis data dilakukan menggunakan
model Miles dan Huberman yang terdiri atas tiga tahap, yaitu reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, informasi
yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dipilih sesuai
dengan fokus penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk uraian
naratif agar memudahkan proses pemahaman. Tahap terakhir adalah penarikan
kesimpulan, yaitu merumuskan temuan penelitian secara sistematis berdasarkan
data yang telah dianalisis. Analisis juga diarahkan pada kesesuaian isi
silabus, RPP, dan modul ajar dengan nilai-nilai karakter yang diintegrasikan
dalam pembelajaran PAI.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Strategi
Integrasi Nilai-Nilai Karakter Dalam Perencanaan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam
Berdasarkan hasil mini riset yang
dilakukan di MTs Darul Mujahadah Tegal, integrasi nilai-nilai karakter dalam
perencanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) sudah mulai diterapkan oleh
guru, meskipun belum sepenuhnya maksimal. Hal ini terlihat dari perangkat
pembelajaran seperti silabus dan RPP yang telah memuat nilai-nilai karakter
seperti religius, disiplin, tanggung jawab, dan jujur.
Integrasi nilai-nilai karakter dalam
perencanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan langkah penting
dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual,
tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Pendidikan Agama Islam tidak hanya menekankan
aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap dan perilaku. Hal ini sejalan
dengan pendapat Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa pendidikan agama
bertujuan membina kepribadian dan akhlak peserta didik secara menyeluruh
(Daradjat, 1992, hlm. 86).
Strategi pertama yang dapat dilakukan
adalah mengintegrasikan nilai karakter ke dalam tujuan pembelajaran. Tujuan
pembelajaran PAI harus mencerminkan pembentukan karakter seperti religius,
jujur, disiplin, dan tanggung jawab. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya
berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian
siswa. Menurut Thomas Lickona, pendidikan karakter adalah usaha sadar untuk
membantu seseorang memahami, mencintai, dan melakukan nilai-nilai kebaikan
(Lickona, 2012, hlm. 51).
Strategi kedua adalah mengintegrasikan
nilai karakter dalam materi pembelajaran. Materi PAI seperti akidah, akhlak,
fiqih, dan sejarah Islam mengandung banyak nilai karakter yang dapat
dikembangkan. Guru perlu menekankan nilai-nilai tersebut agar siswa tidak hanya
memahami materi, tetapi juga meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi ketiga yaitu menggunakan metode
pembelajaran yang mendukung pembentukan karakter. Metode seperti diskusi, kerja
kelompok, dan pembiasaan sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter.
Melalui metode tersebut, siswa dapat belajar secara langsung bagaimana bersikap
jujur, bertanggung jawab, dan bekerja sama. Hal ini didukung oleh pendapat E.
Mulyasa yang menyatakan bahwa pembelajaran yang efektif harus mampu
mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang
(Mulyasa, 2013, hlm. 23).
Strategi keempat adalah mengintegrasikan
nilai karakter dalam penilaian (evaluasi). Penilaian tidak hanya berfokus pada
aspek kognitif, tetapi juga pada sikap dan perilaku peserta didik. Guru dapat
menggunakan observasi, jurnal, dan penilaian diri untuk menilai perkembangan
karakter siswa.
Selain itu, keteladanan guru dan
lingkungan sekolah juga menjadi strategi penting dalam integrasi nilai
karakter. Guru harus menjadi contoh yang baik bagi siswa dalam bersikap dan
berperilaku. Lingkungan sekolah yang religius dan disiplin akan sangat
mendukung pembentukan karakter peserta didik. Menurut Ki Hajar Dewantara,
pendidikan harus memberikan teladan, membangun kemauan, dan mengembangkan
potensi peserta didik (Dewantara, 1977, hlm. 20).
Guru PAI di MTs Darul Mujahadah Tegal
menyusun tujuan pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi
juga memasukkan unsur pembentukan sikap. Misalnya, dalam materi akhlak, guru
menekankan pentingnya kejujuran dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari
siswa. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran sudah mengarah pada
integrasi nilai karakter.
Selain itu, dari hasil wawancara dengan
guru PAI, diketahui bahwa metode pembelajaran yang digunakan cukup bervariasi,
seperti diskusi kelompok, tanya jawab, dan pembiasaan. Melalui metode tersebut,
siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga dilatih untuk bekerja sama dan
bertanggung jawab.
Pembentukan karakter tidak dapat
dilakukan secara spontan atau instan, sehingga membutuhkan strategi yang tepat
dan terencana. Hal ini karena karakter berkaitan dengan kebiasaan, sikap, dan
nilai yang tertanam dalam diri peserta didik, yang memerlukan proses pembiasaan
secara terus-menerus. Tanpa adanya strategi yang jelas, penanaman nilai
karakter cenderung hanya bersifat teoritis dan tidak berdampak pada perilaku
nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, setiap peserta didik
memiliki latar belakang, lingkungan, dan kepribadian yang berbeda, sehingga
pendekatan yang digunakan juga harus disesuaikan. Strategi diperlukan agar guru
dapat memilih metode, media, serta bentuk pembelajaran yang tepat dalam
menanamkan nilai karakter. Dengan adanya strategi yang terarah, proses
pembentukan karakter dapat berjalan lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.
4.2
Kendala yang
Dihadapi Guru Dalam Mengimplementasikan Nilai Karakter Saat Proses Pembelajaran
PAI Di Kelas
Berdasarkan hasil penelitian di MTs
Darul Mujahadah Tegal, terdapat beberapa kendala yang dihadapi guru dalam
mengimplementasikan nilai karakter dalam pembelajaran PAI. Kendala pertama
adalah keterbatasan waktu pembelajaran. Guru lebih fokus menyelesaikan materi
sesuai kurikulum, sehingga penanaman nilai karakter belum maksimal. Dari hasil
wawancara, guru menyatakan bahwa waktu yang tersedia sering tidak cukup untuk
mengembangkan pembelajaran yang mendalam terkait pembentukan karakter.
Kendala kedua adalah perbedaan latar
belakang siswa. Di MTs Darul Mujahadah Tegal, siswa berasal dari lingkungan
keluarga yang beragam, sehingga tidak semua siswa memiliki kebiasaan atau
karakter yang sama. Hal ini membuat guru harus bekerja lebih ekstra dalam
membimbing siswa. Kendala lainnya adalah kurangnya dukungan dari lingkungan
luar sekolah, terutama dari keluarga. Beberapa siswa kurang mendapatkan
pembiasaan nilai karakter di rumah, sehingga apa yang diajarkan di sekolah
tidak selalu berjalan seimbang.
Dalam proses pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI), implementasi nilai-nilai karakter merupakan hal yang sangat
penting dalam membentuk kepribadian peserta didik. Namun, dalam praktiknya,
guru sering menghadapi berbagai kendala yang menghambat proses tersebut.
Pendidikan karakter membutuhkan proses yang berkelanjutan dan konsisten. Hal
ini sejalan dengan pendapat Thomas Lickona yang menyatakan bahwa pendidikan
karakter harus dilakukan secara terus-menerus agar mampu membentuk perilaku
peserta didik (Lickona, 2012, hlm. 72).
Salah satu kendala utama adalah keterbatasan
pemahaman dan kompetensi guru dalam mengintegrasikan nilai karakter ke
dalam pembelajaran. Tidak semua guru mampu mengaitkan materi PAI dengan
nilai-nilai karakter secara efektif. Menurut E. Mulyasa, keberhasilan
pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses
pembelajaran secara profesional (Mulyasa, 2013, hlm. 37). Selain itu, Abuddin
Nata juga menegaskan bahwa guru pendidikan Islam harus memiliki kompetensi
kepribadian dan sosial agar dapat menjadi teladan bagi peserta didik (Nata,
2010, hlm. 62).
Selain itu, minimnya sarana dan
prasarana juga menjadi hambatan. Kurangnya media pembelajaran yang
mendukung membuat guru kesulitan dalam menyampaikan nilai-nilai karakter secara
kreatif. Hal ini diperkuat oleh pendapat Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa
lingkungan pendidikan yang baik sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian
anak (Daradjat, 1992, hlm. 95).
Sebagai guru PAI memang banyak
kendala-kendala yang harus dihadapi di lapangan ketika mengintegrasikan
nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Salah satu kendala yang sering
muncul adalah keterbatasan waktu, karena guru harus menyesuaikan antara
penyampaian materi sesuai kurikulum dengan penanaman nilai karakter yang
membutuhkan proses lebih panjang. Selain itu, perbedaan latar belakang peserta
didik juga menjadi tantangan, di mana tidak semua siswa memiliki lingkungan
keluarga yang mendukung pembentukan karakter yang baik.
Di sisi lain, keterbatasan sarana dan
prasarana pembelajaran turut mempengaruhi efektivitas penyampaian nilai
karakter, sehingga guru seringkali mengandalkan metode ceramah yang kurang
variatif. Tidak kalah penting, kurangnya sinergi antara sekolah dan orang tua
juga menjadi hambatan, karena nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak
selalu diperkuat di lingkungan rumah. Oleh karena itu, guru PAI dituntut untuk
lebih kreatif, sabar, dan konsisten dalam membimbing peserta didik agar
nilai-nilai karakter dapat tertanam secara maksimal dalam kehidupan
sehari-hari.
4.3
Efektivitas Integrasi
Nilai Karakter Tersebut
Terhadap Perubahan
Perilaku Dan Sikap Mental Peserta Didik
Hasil penelitian di MTs Darul Mujahadah
Tegal menunjukkan bahwa integrasi nilai karakter dalam pembelajaran PAI
memberikan dampak yang cukup positif terhadap perilaku siswa. Hal ini terlihat
dari perubahan sikap siswa, seperti mulai terbiasa bersikap sopan kepada guru,
lebih disiplin dalam mengikuti pelajaran, serta lebih bertanggung jawab dalam
mengerjakan tugas. Berdasarkan hasil observasi, beberapa siswa juga menunjukkan
peningkatan dalam sikap religius, seperti terbiasa berdoa sebelum dan sesudah
belajar
Integrasi nilai-nilai karakter dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran yang sangat penting
dalam membentuk perilaku dan sikap mental peserta didik. Pendidikan karakter
tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk
kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Efektivitas integrasi ini dapat
dilihat dari adanya perubahan sikap, seperti meningkatnya kejujuran, tanggung
jawab, disiplin, dan sikap religius peserta didik. Menurut Thomas Lickona,
pendidikan karakter yang berhasil adalah yang mampu membuat peserta didik
mengetahui, mencintai, dan melakukan nilai-nilai kebaikan (Lickona, 2012, hlm.
51).
Efektivitas integrasi nilai karakter
juga terlihat dari perubahan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik yang mendapatkan pendidikan karakter secara konsisten akan
menunjukkan sikap yang lebih baik, seperti menghormati guru, jujur dalam
mengerjakan tugas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Hal ini sejalan
dengan pendapat Zakiah Daradjat yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam
adalah membentuk kepribadian muslim yang berakhlak mulia (Daradjat, 1992, hlm.
88).
Integrasi nilai karakter cukup efektif
karena mampu membuat perilaku siswa menjadi lebih baik dalam kehidupan
sehari-hari, seperti lebih sopan, jujur, dan peduli terhadap orang lain. Selain
itu, integrasi nilai karakter juga membantu membentuk sikap disiplin, tanggung
jawab, serta kesadaran diri peserta didik dalam bertindak dan mengambil
keputusan. Peserta didik menjadi lebih mampu membedakan mana yang baik dan
buruk, serta lebih terkontrol dalam bersikap baik di lingkungan sekolah maupun
di luar sekolah.
Selain itu, integrasi nilai karakter
juga berpengaruh terhadap sikap mental peserta didik, seperti meningkatnya
kesadaran diri, motivasi belajar, dan kontrol diri. Peserta didik menjadi lebih
mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta mampu mengendalikan
perilakunya. Menurut Abuddin Nata, pendidikan Islam berfungsi untuk membentuk
manusia yang memiliki keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, dan
spiritual (Nata, 2010, hlm. 54).
Integrasi nilai karakter dalam
pembelajaran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan sikap
mental peserta didik. Hal ini terlihat dari meningkatnya kesadaran diri,
motivasi belajar, serta kemampuan peserta didik dalam mengendalikan
perilakunya. Peserta didik menjadi lebih mampu memahami perbedaan antara
perilaku yang baik dan yang tidak, sehingga dapat bersikap lebih bijak dalam
kehidupan sehari-hari.
Selain itu, integrasi nilai karakter
juga berperan dalam membentuk keseimbangan aspek intelektual, emosional, dan
spiritual peserta didik. Dengan adanya penanaman nilai secara konsisten,
peserta didik tidak hanya berkembang dalam hal pengetahuan, tetapi juga dalam
sikap dan kepribadian. Dengan demikian, pendidikan yang diberikan tidak hanya
menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan
mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.
Efektivitas ini juga dipengaruhi oleh
konsistensi dalam penerapan nilai karakter di lingkungan sekolah. Jika
nilai-nilai tersebut diterapkan secara terus-menerus melalui pembelajaran,
pembiasaan, dan keteladanan, maka perubahan perilaku peserta didik akan lebih
terlihat. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus dilakukan
melalui keteladanan, pembiasaan, dan penguatan lingkungan yang mendukung
(Dewantara, 1977, hlm. 28).
Namun, efektivitas integrasi nilai
karakter tidak dapat dicapai secara instan, melainkan membutuhkan proses yang
berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara guru, sekolah, dan
orang tua dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Dengan
adanya sinergi tersebut, maka perubahan perilaku dan sikap mental peserta didik
akan lebih optimal.
Dengan demikian, integrasi nilai
karakter dalam pembelajaran PAI terbukti efektif dalam membentuk perilaku dan
sikap mental peserta didik ke arah yang lebih baik, selama dilakukan secara
konsisten, terencana, dan didukung oleh lingkungan yang kondusif.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Strategi integrasi nilai karakter dalam
kurikulum PAI dilakukan melalui pendekatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Guru menyisipkan nilai karakter dalam
perangkat pembelajaran serta didukung oleh budaya sekolah dan keteladanan
pendidik. Kendala utama implementasi adalah keterbatasan waktu, bahan ajar
kontekstual, perbedaan latar belakang peserta didik, dan kurangnya peran orang
tua dalam penguatan karakter di rumah.Integrasi nilai karakter berdampak
positif terhadap perubahan perilaku peserta didik, terutama dalam hal
kedisiplinan, kejujuran, dan rasa hormat. Namun, efektivitasnya sangat
dipengaruhi oleh konsistensi pembiasaan dan dukungan lingkungan sekolah maupun
keluarga.
5.2
Saran
Bagi Lembaga Pendidikan: Perlu
mengembangkan modul ajar PAI yang kontekstual dan memuat indikator penilaian
karakter secara autentik, serta memperkuat program pembiasaan berbasis
nilai-nilai Islam. Bagi Guru PAI, hendaknya menggunakan metode pembelajaran aktif seperti role playing
dan diskusi kasus agar nilai karakter lebih mudah dihayati siswa, bukan sekadar
dihafal. Bagi orang tua, diharapkan dapat bersinergi dengan sekolah dalam
menguatkan nilai karakter melalui pembiasaan positif di lingkungan keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam.
Jakarta: Bumi Aksara.
Dewantara, Ki Hajar. 1977. Pendidikan.
Yogyakarta: Taman Siswa.
Fikri, Ahmad. 2025. Metodologi Pembelajaran PAI
di Era Digital. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hamalik, Oemar. 2023. Manajemen Pengembangan
Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2023. Panduan
Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Jakarta:
Kemendikbudristek.
Lickona, Thomas. 2012. Educating for Character:
Mendidik untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
Lickona, Thomas. 2022. Character Matters:
Strategi Membangun Karakter di Sekolah. Terjemahan Juma Abdu Wamaungo.
Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyasa, E. 2013. Pengembangan dan Implementasi
Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nata, Abuddin. 2010. Ilmu Pendidikan Islam.
Jakarta: Kencana.
Yakub, Hamzah. 2021. Etika Islam: Pembinaan
Akhlakul Karimah di Sekolah. Bandung: Diponegoro.
Zubaedi. 2022. Desain Pendidikan Karakter:
Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.
LAMPIRAN
A.
PEDOMAN
WAWANCARA MINI RISET
Pertanyaan untuk Guru PAI
1. Bagaimana
Bapak/Ibu memahami konsep integrasi nilai karakter dalam pembelajaran PAI?
2. Apakah
nilai-nilai karakter sudah dimasukkan dalam RPP atau modul ajar yang digunakan?
3. Nilai
karakter apa saja yang paling sering ditanamkan dalam pembelajaran PAI?
4. Bagaimana
cara Bapak/Ibu mengintegrasikan nilai karakter saat proses pembelajaran
berlangsung?
5. Metode
apa yang biasanya digunakan untuk menanamkan nilai karakter kepada siswa?
6. Apakah
ada program khusus di sekolah yang mendukung pendidikan karakter?
7. Kendala
apa saja yang Bapak/Ibu hadapi dalam mengintegrasikan nilai karakter di kelas?
8. Bagaimana
cara mengatasi perbedaan karakter siswa yang beragam?
9. Bagaimana
bentuk evaluasi atau penilaian terhadap karakter siswa?
10. Menurut
Bapak/Ibu, sejauh mana integrasi nilai karakter berpengaruh terhadap perilaku
siswa?
Pertanyaan untuk Peserta Didik
1. Apakah
guru PAI sering mengajarkan tentang sikap atau perilaku yang baik selain materi
pelajaran?
2. Nilai
apa saja yang sering diajarkan oleh guru di kelas (misalnya jujur, disiplin,
tanggung jawab)?
3. Apakah
kamu merasa ada perubahan sikap setelah mengikuti pelajaran PAI?
4. Bagaimana
cara guru mencontohkan perilaku yang baik di kelas?
5. Apakah
kamu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari?
6. Kegiatan
apa di sekolah yang menurut kamu membantu membentuk karakter?
B.
DOKUMENTASI





Post a Comment for "Mini Riset: Integrasi Nilai Karakter dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam di MTs Darul Mujahadah Tegal"
Beri Komentar Yuk